Kelana Haramain Travel menjadi awal dari perjalanan spiritual yang tak terlupakan. Bukan sekadar trip religi biasa, tapi sebuah ekspedisi iman yang membawa rombongan milenial dan Gen Z menapaki jejak para nabi. Aku masih ingat betul hari pertama kami mendarat di Tanah Suci — udara panas bercampur haru, dan di hati, ada rasa syukur yang sulit dijelaskan.

Bagi banyak anak muda, traveling ke luar negeri mungkin tentang konten Instagram atau menambah koleksi paspor. Tapi kali ini, berbeda. Kami datang bukan untuk sekadar foto, tapi mencari makna. Melihat langsung tempat yang setiap hari disebut dalam doa: Masjidil Aqsho.

Dari Makkah ke Palestina: Misi Iman yang Menggetarkan

Setelah menyelesaikan rangkaian ibadah Umroh di Makkah, rombongan kami bersiap menuju Yerusalem. Perjalanan itu bukan sekadar fisik — tapi emosional. Sepanjang jalan, pemandu menceritakan bagaimana umat Islam sejak masa Nabi Muhammad ﷺ begitu mencintai dan melindungi Masjidil Aqsho.

Sesampainya di perbatasan, kami berhadapan dengan pemeriksaan ketat. Ada rasa tegang, tapi juga bangga. Kami sadar, tidak semua orang mendapat kesempatan menapaki bumi para nabi. Begitu kaki melangkah ke dalam kompleks Masjidil Aqsho, suasana mendadak berubah. Langit tampak lebih biru, dan lantai marmernya terasa dingin tapi menenangkan.

Beberapa teman meneteskan air mata saat takbir berkumandang. Bayangkan, tempat ini adalah kiblat pertama umat Islam, tempat Nabi Muhammad ﷺ melakukan Isra’ Mi’raj.

Rasanya seperti waktu berhenti. Burung-burung berterbangan di langit Al-Quds, dan suara muadzin menggema dengan lantang. Salah satu teman berkata lirih, “Kayak mimpi, ya, bisa shalat di sini.”

Kami duduk di halaman masjid, mendengarkan kisah penjaga tua tentang bagaimana mereka mempertahankan tempat suci itu meski dalam tekanan politik yang luar biasa. Ada rasa kagum dan haru — betapa kuatnya iman yang membuat mereka tetap tersenyum di tengah keterbatasan.

Di momen itu, aku sadar, perjalanan Umroh plus Aqso bukan cuma wisata religi, tapi panggilan hati. Sebuah pengingat bahwa Islam itu bukan hanya ritual, tapi juga perjuangan menjaga warisan suci.

Kenapa Milenial dan Gen Z Harus Datang ke Aqsho?

Generasi muda hari ini hidup di era serba cepat. Semua bisa dicapai dalam hitungan detik — tapi sering kali kehilangan arah. Masjidil Aqsho memberi kita kesempatan untuk berhenti sejenak dan merenung.

Bagi milenial dan Gen Z, datang ke Aqsho bukan sekadar memenuhi bucket list, tapi menemukan identitas spiritual. Di sinilah kamu akan belajar bahwa kekuatan sejati bukan dari likes atau followers, tapi dari iman yang menuntun langkah.

Travel seperti Kelana Haramain Travel memahami hal itu. Mereka menyusun paket perjalanan bukan hanya untuk kenyamanan, tapi untuk menghadirkan pengalaman rohani yang membekas. Mulai dari Makkah, Madinah, hingga Al-Quds — setiap destinasi punya cerita yang meneguhkan.

Saat pesawat meninggalkan langit Palestina, hati terasa penuh. Bukan hanya karena kenangan, tapi karena kesadaran baru: Islam itu luas, indah, dan penuh cinta. Setiap langkah di Masjidil Aqsho menjadi doa yang terus terngiang.

Mungkin itulah yang membuat perjalanan ini tak pernah benar-benar usai. Sekalipun sudah kembali ke tanah air, hati ini seolah tertinggal di halaman masjid suci itu.

Jadi, buat kamu yang masih ragu, mungkin inilah saatnya menjawab panggilan iman. Rencanakan perjalananmu, siapkan diri, dan biarkan hatimu menyusuri jejak para nabi lewat Umroh plus Aqsho. Karena pada akhirnya, di setiap langkah yang kamu ambil menuju Baitul Maqdis, ada keberkahan yang tak ternilai.

Ingin melangkah lebih jauh menuju cinta sejati kepada Allah سبحانه وتعالى?
Saatnya kamu temukan pengalaman spiritual yang sesungguhnya dengan Umroh plus Aqsho — perjalanan yang bukan hanya ke tempat suci, tapi ke dalam hatimu sendiri.

Categorized in: