Waktu berjalan tanpa menoleh. Tiba-tiba, kalender sudah di halaman terakhir. Angka-angka di pojok kanan bawah layar ponsel menandai hari-hari terakhir di tahun ini. Udara terasa lebih sejuk, langit sedikit lebih redup, dan hati seperti diajak untuk berhenti sejenak — merenung, menengok ke belakang, dan bertanya, sudah sejauh apa aku berjalan?
Akhir tahun bukan hanya tentang liburan dan pesta kembang api. Ia juga tentang keheningan di antara kesibukan, tentang jeda yang jarang kita beri untuk diri sendiri. Inilah waktu terbaik untuk menata ulang langkah, menyeimbangkan antara dunia dan akhirat, serta mengingat kembali apa yang sebenarnya kita cari selama ini.
Banyak dari kita yang hidup dalam kejaran — kejaran target, ambisi, atau bahkan validasi. Setiap hari terasa sibuk, tapi kadang tanpa arah yang jelas. Lalu, saat waktu perlahan melambat di penghujung tahun, hati tiba-tiba sadar: mungkin bukan kesuksesan yang kita rindukan, tapi ketenangan.
Dan ketenangan itu sering kali berawal dari kesadaran untuk bersyukur. Bersyukur karena masih diberi waktu, kesehatan, dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Bersyukur karena masih bisa memeluk keluarga di rumah, bercanda dengan anak-anak, dan tersenyum kepada pasangan yang selalu setia di sisi.
Keluarga adalah cermin paling jujur dari perjalanan kita. Mereka tahu saat kita sedang lelah, meski kita berpura-pura kuat. Mereka sabar menunggu di rumah, bahkan ketika dunia di luar tak memberi ruang untuk berhenti. Maka, akhir tahun selalu menjadi waktu terbaik untuk kembali — bukan sekadar pulang secara fisik, tapi juga pulang ke hati mereka.
Liburan akhir tahun tidak harus selalu tentang jalan-jalan atau tempat wisata. Bisa jadi tentang waktu tenang bersama keluarga: menyalakan lilin kecil di ruang tamu, menyiapkan makanan sederhana, dan berbincang tentang hal-hal kecil yang kadang terlupakan. Di momen seperti ini, kita sering menemukan makna bahagia yang sesungguhnya.
Bagi sebagian orang, refleksi akhir tahun juga punya makna spiritual yang lebih dalam. Ada yang memilih mendekat kepada Allah سبحانه وتعالى melalui dzikir, tilawah, atau shalat malam. Ada pula yang mengambil langkah lebih jauh — menutup tahun dengan perjalanan ibadah ke Tanah Suci, seperti melaksanakan umroh desember bersama keluarga tercinta.
Banyak kisah indah lahir dari perjalanan spiritual itu. Ada yang menemukan kembali makna doa setelah lama terlupa. Ada yang merasa hatinya dibersihkan, seakan setiap langkah di pelataran Masjidil Haram menjadi sapuan lembut yang menghapus penat. Ada pula yang pulang dengan tekad baru: hidup lebih dekat dengan Allah سبحانه وتعالى, lebih sabar, dan lebih sederhana.
Bagi mereka, umroh di bulan Desember bukan sekadar ibadah, tapi simbol dari penutupan tahun yang penuh makna. Saat orang lain menutup tahun dengan pesta, mereka menutupnya dengan sujud dan air mata haru. Mereka tidak hanya menatap tahun baru dengan rencana, tapi juga dengan hati yang bersih.
Namun, bahkan bagi kita yang belum sempat menunaikan ibadah itu, kesempatan untuk refleksi tetap ada di depan mata. Karena hakikat dari perjalanan spiritual bukan pada jaraknya, tapi pada kesungguhan niatnya. Kita bisa menemukan Allah سبحانه وتعالى di mana saja — di ruang tamu yang tenang, di sajadah yang basah oleh air mata, atau di antara tawa anak-anak yang menjadi pengingat betapa banyak nikmat yang belum kita syukuri.
Menjelang tahun baru, banyak orang berbicara tentang resolusi. Namun barangkali, yang kita butuhkan bukan hanya daftar panjang rencana, melainkan kesadaran untuk menjalani hidup dengan lebih bermakna. Tidak perlu menunggu momen besar untuk berubah — cukup mulai dengan hal kecil: memperbaiki shalat, memperbanyak doa, menjaga waktu bersama keluarga, dan menebar kebaikan setiap hari.
Karena hidup bukan tentang seberapa cepat kita berlari, tapi tentang seberapa dalam kita memaknai setiap langkah.
Tahun baru akan datang dengan segala rahasianya. Kita tidak tahu apa yang menunggu, tapi kita bisa menyiapkan hati untuk menerimanya dengan lapang. Jadikan pengalaman tahun ini sebagai pelajaran, bukan penyesalan. Jadikan setiap luka sebagai pengingat, bukan penghalang.
Dan ketika malam pergantian tahun tiba, tidak ada salahnya jika kita memilih untuk menutupnya dalam keheningan — menatap langit malam, berdoa dengan tulus, dan berjanji pada diri sendiri untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Karena sebenarnya, pergantian tahun bukan tentang dunia yang berubah, tapi tentang hati yang diperbarui.
Selamat menutup tahun dengan syukur. Semoga langkah-langkah kita di tahun yang baru dipenuhi keberkahan, keluarga yang harmonis, rezeki yang lapang, dan hati yang selalu ingat kepada Allah سبحانه وتعالى.